Proposal ini pernah lolos Ditjen Dikti
PEMBELAJARAN AKSARA JAWA
MELALUI METODE IQRO’
Bisri Nuryadi, Khoirul Bariyyah N., Amelia Nurul Azizah
Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah, FKIP, Universitas Veteran Bangun Nusantara, Jl. Letjen Sujono Humardani No.1, Sukoharjo 57521.
PENDAHULUAN
Dalam Surat
Keputusan Gubernur Jawa Tengah No.895.5/01/2005 dinyatakan kurikulum mata
pelajaran bahasa Jawa wajib dilaksanakan disemua jenjang sekolah di Provinsi
Jawa Tengah mulai tahun ajaran 2005/2006 untuk SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB dan
SMA/ SMK/MA/SMALB baik sekolah negeri maupun swasta. Kurikulum tersebut
ditetapkan dan diberlakukan dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di Jawa
Tengah, terutama dalam upaya penanaman nilai-nilai budi pekerti dan sebagai
salah satu bentuk pelestarian budaya bangsa (1).
Berkaitan dengan
hal tersebut, saat ini banyak ditemui siswa yang merasa kesulitan belajar
bahasa Jawa, terutama dalam hal pelajaran aksara
Jawa. Berdasar hasil data yang kami kumpulkan disalah satu Sekolah Dasar di
tengah-tengah ibu kota Kabupaten Sukoharjo, tepatnya di SD Negeri 02 Jombor,
kelurahan Jombor, kecamatan Bendosari, kabupaten Sukoharjo. Ditemukan nilai
rata-rata mata pelajaran bahasa Jawa adalah sebagai berikut: kelas I:6,5 ;
kelas II:6,8 ; kelas III: 6,8 ; kelas IV:6,8 ; kelas V:6,5 dan kelas V:6,5.
Nilai tersebut salah satunya didukung oleh sub mata pelajaran aksara Jawa.
Aksara Jawa adalah salah satu budaya adi
luhung (tinggi keluhurannya) yang berupa sistem tanda grafis yang disebut aksara. Salah satu aksara yang hingga kini masih digunakan ialah aksara jawa (2). Bentuk aksara dan seni pembuatannya-pun menjadi
suatu peninggalan yang patut untuk dilestarikan. Secara politis,
pelestarian itu bertujuan untuk memfungsikan kembali aksara jawa dalam dunia
baca tulis seperti yang ditekankan dalam keputusan Kongres Bahasa Jawa l bahwa
huruf jawa harus dperkenalkan kepada para peserta didik (2). Tetapi dibalik itu
semua banyak siswa yang mengalami kesulitan untuk mempelajari aksara jawa. Bahkan hampir semua orang
Jawa mengalami kesulitan membaca dan menulis huruf Jawa. Akibatnya berkembang
rumor yang menyatakan orang Jawa sendiri tidak dapat membaca dan menulis huruf
Jawa, apalagi orang lain (3).
Atas dasar itu
perlu adanya suatu gagasan untuk membantu memecahkan masalah tersebut berupa
pemanfaatkan media pembelajaran yang tepat.
Media Pembelajaran merupakan segala bentuk dan saluran yang digunakan
untuk menyampaikan pesan atau informasi yang berisi tujuan instruksional atau
mengandung maksud-maksud pengajaran. Media pembelajaran adalah segala sesuatu
yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (bahan pembelajaran), sehingga
dapat merangsang perhatian, minat, pikiran dan perasaan si belajar dalam
kegiatan belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu (4).
Maka solusinya
melalui sebuah proses pembelajaran aksara
Jawa yang praktis dan sederhana untuk diterapkan pada anak-anak, seperti halnya
belajar iqro’ (huruf Arab), karena
keduanya mempunyai karakter yang sama yaitu tanda grafis berbentuk huruf selain
huruf latin. Pelaksanaan kegiatan ini terkesan sangat sederhana, tapi justru dari
kesederhanaan itulah metode ini efektif (5). Pembelajaran ini menggunakan
tingkatan jilid, Jilid-jilid tersebut disusun berdasarkan urutan dan tertib
materi yang harus dilalui secara bertahap oleh masing-masing anak, sehinnga
jilid 2 adalah kelanjutan jilid 1, jilid 3 adalah merupakan kelanjutan jilid 2,
demikian seterusnya sampai selesai jilid 6 (6). Metode belajar Iqro’ yang
diterapkan pada proses belajar aksara
jawa atau disebut “Iqro Jawa” terdiri dari empat jilid dengan
susunan aksara Jawa yang tersusun
dari jilid I, II, III dan IV.
Untuk melanjutkan silahkan Klik bagian-bagian Proposal di bawah ini!
Jika muncul ad.fly bergambar tawon madu, harap tunggu sebentar
lalu klik "skip Ad" di kiri pojok atas.
Untuk melanjutkan silahkan Klik bagian-bagian Proposal di bawah ini!
Jika muncul ad.fly bergambar tawon madu, harap tunggu sebentar
lalu klik "skip Ad" di kiri pojok atas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar