Senin, 16 Maret 2015

METODE PEMBELAJARAN AKSARA JAWA MELALUI METODE IQRO’

Program Kreativitas Mahasiswa Artikel Ilmiah
Proposal ini pernah lolos Ditjen Dikti


PEMBELAJARAN AKSARA JAWA
MELALUI METODE IQRO’
Bisri Nuryadi, Khoirul Bariyyah N., Amelia Nurul Azizah
Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah, FKIP, Universitas Veteran Bangun Nusantara, Jl. Letjen Sujono Humardani No.1, Sukoharjo 57521.




METODE
Metode mengajar merupakan cara-cara/teknik yang digunakan dalam mengajar, misalnya ceramah, tanya jawab, diskusi, sosiodrama, demonstrasi, eksperimen dan sebagainya (7).
Pembelajaran dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri  02 Jombor kec. Bendosari Kab. Sukoharjo yang di praktekkan pada siswa kelas 4 dan 6 dengan jumlah siswa sebanyak 38 siswa, dilaksanakan selama 3 bulan . Dengan jadwal masuk 2X dalam seminggu, yaitu hari selasa dan kamis pada pukul 14.30 WIB. sampai dengan pukul 16.00 WIB.
Dalam proses kegiatan belajar mengajarnya, dapat dilihat pada table berikut ini:


Tabel 1. Skenario Pembelajaran
No
Kegiatan
Kegitan Tutor
Metode
Waktu
1
Pra pembelajaran
Mengabsen siswa
Memanggil nama siswa
5 menit
2
Pembukaan
Menyampaikan tujuan bimbingan
Ceramah 
10 menit
3
Kegiatan inti
Membimbing siswasecara bertahap dalam mempelajari aksara Jawa
Membaca dan menulis aksara Jawa
50 menit
4
Evaluasi
Memberikan tes kepada siswa
Tes baca tulis aksara Jawa
15 menit
5
Penutup
 motivasi dan nasehat
Ceramah
10 menit
                                          


 Bahan ajar proses pembelajaran ini menggunakan buku “Cara Praktis Belajar Aksara Jawa Melalui Metode Belajar Iqro’” yang pernah didanai oleh DP2M (Derektorat Penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat) Kementerian Pendidikan Nasional tahun 2010 yang dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

Gambar 1. Modul buku pangajaran

sementara gambar tidak dapat diakses

                 
Modul pengajaran terdiri dari 4 jilid, rinciannya adalah sebagai berikut. Jilid I menerapkan pembelajaran huruf awal aksara Jawa yang berjumlah 20 aksara yang belum mendapatkan tambahan apapun (aksara legena) dan angka Jawa dari angka 0 sampai 9.  Aksara tersebut adalah ha, na, ca, ra, ka, da, ta, sa, wa, la, pa, dha, ja, ya, nya, ma, ga, ba, tha dan nga. Sebagai contoh untuk halaman pertama hanya memuat 2 huruf/aksara saja, yaitu ha dan na. Dengan perincian sebagai berikut; ha-na, ha-na-ha_na-ha-na, na-ha-ha_ha-na-na, na-na-ha_ha-ha-na, na-ha-na_ha-na-ha, ha-na-na_na-ha-ha, ha-na_ha-na. Untuk halaman berikutnya ditambahkan 1 huruf dengan mengaitkan huruf yang sudah dipelajari pada halaman sebelumnya, begitu juga dengan seterusnya. Jilid II menerapkan sandangan aksara Jawa. Sandangan aksara Jawa tersebut meliputi : wulu (i), taling (é/è), taling tarung (o), pepet (e), suku (u), layar (r), wignyan (h), cecak (ng), cakra (...ra), cakra keret (...re), pengkal (...ya), dirga muré (ai), dirga mutak (eu), pangkon (mematikan aksara untuk mendapatkan huruf konsonan). Seperti halnya pada jilid 1, jilid 2 dalam mempelajari sandhangan aksara jawa juga mengaitkan dari halaman sebelumnya dengan halaman berikutnya secara bertahap.  Jilid III menerapkan pengajaran pasangan aksara Jawa yang meliputi ha, na, ca, ra, ka, da, ta, sa, wa, la, pa, dha, ja, ya, nya, ma, ga, ba, tha, dan nga. Seperti pada jilid sebelumnya, jilid ini secara bertahap mengaitkan huruf yang sudah dipelajari pada halaman berikutnya. Jilid IV menerapkan pengajaran aksara rekan (lafadz serapan dari bahasa lain) yang meliputi kh, f/v, dz, gh, z. Aksara swara (untuk menuliskan nama negara, instansi, dan orang yang diawali dengan huruf vokal) yang terdiri dari a, i, u, e, o, dan aksara murda (huruf kapital)  yang meliputi na, ka, ta, sa, pa, nya, ga, dan ba. Pada jilid ini juga akan dibelajarkan tentang petunjuk dalam penulisan aksara jawa, yaitu adeg-adeg (tanda untuk memulai kalimat), pada lingsa (koma), dan pada lungsi (titik).
Evaluasi dilaksanakan tiap jilid dengan menggunakan kriteria tingkat kelancaran dan kisaran nilai dari 0 sampai 10, seperti pada tabel berikut ini:

  Tabel 2. Kriteria Penilaian Kelancaran

Tingkat kelancaran
Nilai
Kurang lancar
0 sampai 6
Lancar
7 sampai 8
Sangat lancar
9 sampai 10


 Bagi peserta yang mendapat nilai 0 sampai 6 tidak diperkenankan untuk melanjutkan pada jilid berikutnya dan harus mengulanginya lagi. Menurut  (7), Sebuah penilaian dikatakan memiliki sebuah praktibilitas yang tinggi apabila tes tersebut bersifat praktis, mudah pengadministrasiannya dan sebuah tes disebut valid apabila tes itu dapat tepat mengukur apa yang hendak diukur. Kegunaan tes ini ialah untuk dijadikan bahan timbangan memperbaiki lesson plan ( Rencana Pembelajaran). Dalam hal ini tes tersebut disajikan umpan balik ( feed back ) dalam meningkatkan mutu pelajaran (8).


Untuk melanjutkan silahkan Klik bagian-bagian Proposal di bawah ini!

Jika muncul ad.fly bergambar tawon madu, harap tunggu sebentar

lalu klik "skip Ad" di kiri pojok atas. 









Tidak ada komentar:

Posting Komentar