Proposal ini pernah lolos Ditjen Dikti
PEMBELAJARAN AKSARA JAWA
MELALUI METODE IQRO’
Bisri Nuryadi, Khoirul Bariyyah N., Amelia Nurul Azizah
Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah, FKIP, Universitas Veteran Bangun Nusantara, Jl. Letjen Sujono Humardani No.1, Sukoharjo 57521.
Gambar 1. Modul buku pangajaran
METODE
Metode mengajar merupakan cara-cara/teknik yang digunakan dalam
mengajar, misalnya ceramah, tanya jawab, diskusi, sosiodrama, demonstrasi,
eksperimen dan sebagainya (7).
Pembelajaran dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri 02 Jombor kec. Bendosari Kab. Sukoharjo yang
di praktekkan pada siswa kelas 4 dan 6 dengan jumlah siswa sebanyak 38 siswa,
dilaksanakan selama 3 bulan . Dengan jadwal masuk 2X dalam seminggu, yaitu hari
selasa dan kamis pada pukul 14.30 WIB. sampai dengan pukul 16.00 WIB.
Dalam proses kegiatan belajar mengajarnya, dapat
dilihat pada table berikut ini:
Tabel 1. Skenario Pembelajaran
No
|
Kegiatan
|
Kegitan Tutor
|
Metode
|
Waktu
|
1
|
Pra pembelajaran
|
Mengabsen
siswa
|
Memanggil nama siswa
|
5
menit
|
2
|
Pembukaan
|
Menyampaikan tujuan bimbingan
|
Ceramah
|
10
menit
|
3
|
Kegiatan
inti
|
Membimbing siswasecara bertahap dalam
mempelajari aksara Jawa
|
Membaca
dan menulis aksara Jawa
|
50
menit
|
4
|
Evaluasi
|
Memberikan
tes kepada siswa
|
Tes
baca tulis aksara Jawa
|
15
menit
|
5
|
Penutup
|
motivasi dan nasehat
|
Ceramah
|
10
menit
|
Bahan ajar
proses pembelajaran ini menggunakan buku “Cara
Praktis Belajar Aksara Jawa Melalui Metode Belajar Iqro’” yang pernah
didanai oleh DP2M (Derektorat Penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat)
Kementerian Pendidikan Nasional tahun 2010 yang dapat dilihat pada gambar di
bawah ini :
sementara gambar tidak dapat diakses
Modul pengajaran terdiri
dari 4 jilid, rinciannya adalah sebagai berikut. Jilid I menerapkan
pembelajaran huruf awal aksara Jawa
yang berjumlah 20 aksara yang belum mendapatkan tambahan apapun (aksara
legena) dan angka Jawa dari angka
0 sampai 9. Aksara tersebut
adalah ha, na, ca, ra, ka, da, ta, sa,
wa, la, pa, dha, ja, ya, nya, ma, ga, ba,
tha dan nga. Sebagai contoh untuk halaman pertama hanya memuat 2 huruf/aksara saja, yaitu ha dan na. Dengan
perincian sebagai berikut; ha-na,
ha-na-ha_na-ha-na, na-ha-ha_ha-na-na, na-na-ha_ha-ha-na, na-ha-na_ha-na-ha,
ha-na-na_na-ha-ha, ha-na_ha-na. Untuk halaman berikutnya ditambahkan 1
huruf dengan mengaitkan huruf yang sudah dipelajari pada halaman sebelumnya,
begitu juga dengan seterusnya. Jilid II menerapkan sandangan aksara Jawa. Sandangan
aksara Jawa tersebut meliputi : wulu
(i), taling (é/è), taling tarung (o), pepet (e), suku (u), layar (r), wignyan
(h), cecak (ng), cakra (...ra), cakra keret (...re), pengkal (...ya), dirga
muré (ai), dirga mutak (eu), pangkon (mematikan aksara untuk mendapatkan
huruf konsonan). Seperti halnya pada jilid 1, jilid 2 dalam mempelajari sandhangan aksara jawa juga mengaitkan
dari halaman sebelumnya dengan halaman berikutnya secara bertahap. Jilid III menerapkan pengajaran pasangan aksara Jawa yang meliputi ha, na, ca, ra, ka, da, ta, sa, wa, la, pa,
dha, ja, ya, nya, ma, ga, ba, tha, dan
nga. Seperti pada jilid sebelumnya, jilid ini secara bertahap mengaitkan huruf yang sudah dipelajari pada
halaman berikutnya. Jilid IV menerapkan pengajaran aksara rekan (lafadz serapan dari bahasa lain) yang meliputi kh, f/v, dz, gh, z. Aksara swara (untuk
menuliskan nama negara, instansi, dan orang yang diawali dengan huruf vokal)
yang terdiri dari a, i, u, e, o, dan aksara murda (huruf kapital) yang
meliputi na, ka, ta, sa, pa, nya, ga, dan ba. Pada jilid ini juga akan
dibelajarkan tentang petunjuk dalam penulisan aksara jawa, yaitu adeg-adeg
(tanda untuk memulai kalimat), pada
lingsa (koma), dan pada lungsi
(titik).
Evaluasi dilaksanakan tiap jilid dengan menggunakan
kriteria tingkat kelancaran dan kisaran nilai dari 0 sampai 10, seperti pada tabel berikut ini:
Tabel 2. Kriteria Penilaian
Kelancaran
Tingkat
kelancaran
|
Nilai
|
Kurang lancar
|
0 sampai 6
|
Lancar
|
7 sampai 8
|
Sangat lancar
|
9 sampai 10
|
Bagi peserta yang mendapat nilai 0 sampai 6 tidak diperkenankan untuk melanjutkan pada
jilid berikutnya dan harus mengulanginya lagi. Menurut (7), Sebuah penilaian
dikatakan memiliki sebuah praktibilitas yang tinggi apabila tes tersebut
bersifat praktis, mudah pengadministrasiannya dan sebuah tes disebut valid
apabila tes itu dapat tepat mengukur apa yang hendak diukur. Kegunaan tes ini ialah untuk dijadikan bahan timbangan
memperbaiki lesson plan ( Rencana
Pembelajaran). Dalam hal ini tes tersebut disajikan umpan balik ( feed back ) dalam meningkatkan mutu
pelajaran (8).
Untuk melanjutkan silahkan Klik bagian-bagian Proposal di bawah ini!
Jika muncul ad.fly bergambar tawon madu, harap tunggu sebentar
lalu klik "skip Ad" di kiri pojok atas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar